Selamat datang di website resmi STIKVINC Surabaya

Service LearningMahasiswa Fu Jen University – Taiwan

16 Juli 2016
05:37:09 WIB

Tanggal 1 Agustus 2016 pk. 10.30 pesawat yang membawa rombongan mahasiswa Fu Jen University dari Taiwan datang bersama dua orang dosen pendamping, Dr. Pei-Yuh Huang dan Sr. Valentine SSpS, mendarat di Bandar Udara Juanda Terminal 2. Malam itu dengan kelelahan sesudah perjalanan 8 jam dari Taipe, mereka masih memberikan senyumannya yang tulus ketika disapa. Diwajahnya nampak keingintahuan yang sangat besar akan segala sesuatu yang akan ditemuinya. Kesan sangat sopan dan menghargai orang lain sangat terasa dari mereka, bahkan tak seorang pun merasa perlu dibantu dibawakan tasnya.
Segera setelah itu, mobil membawa mereka ke tempat penginapan. Keteraturan hidup mereka nampak malam itu ketika mereka memeriksa kamar dan merasa perlu membeli beberapa alat yang mereka butuhkan, seperti shampoo, pasta gigi dan sikat gigi. Sesudah semuanya siap, mereka masuk kekamar masing-masing, sesuai dengan pembagian. Tidak ada sedikitpun protes dengan teman sekamarnya. Benar-benar teratur.
Keterbatasan bahasa tidak menjadikan tembok diantara mahasiswa Taiwan dan yang dari Indonesia. Hanya ada satu peristiwa malam itu yang membuat tersenyum. Ketika itu sang ketua kelompok mahasiswa Fu Jen menanyakan keberadaan Sr. Valentine, pendamping mereka: Where is my Sister? , mahasiswa Stikvinc yang menjemput tidak menyadari yang dimaksud Sister adalah suster. Maka mereka bertanya-tanya, Do your sister come with you? . Namun ketika hati bicara, akhirnya dimengerti kalau yang dimaksud adalah Sr.Valentin.

Kedatangan mahasiswa dari Fu Jen University ke Indonesia, khususnya ke Stikes Katolik St. Vincentius a Paulo Surabaya, adalah untuk melakukan pelayanan (service). Program tersebut diprakarsai oleh pihak uni-versitas untuk mengisi libur musin panas mereka. Dikatakan pelayanan karena mengajar dengan sukarela. Sasarannya adalah luar negri, untuk memberi kesempatan mahasiswa mempunyai pengalaman di luar negri. Selain itu sasaran tempatnya adalah Negara yang sedang berkembang atau belum berkembang. Sisi lain dari program ini adalah untuk menimbulkan rasa empati, karena rata-rata mahasiswa datang dari keluarga berkecukupan.
Keesokan harinya, tanggal 2 Agustus 2016, para mahasiswa Fu Jen menjadi tamu para Suster SSpS yang merayakan kaul beberapa suster. Mereka menuturkan sangat suka dengan hidangan makanan pada siang hari itu, karena tidak jauh berbeda dengan makanan keseharian mereka yakni tidak terlalu berbumbu.
Hari pertama di Stikes pada tanggal 3 Agustus 2016, diisi dengan acara pembukaan resmi oleh Ketua Yayasan Pendidikan Kesehatan Arnoldus, Sr. Augusta SSpS, kemudian dilanjutkan

dengan saling memperkenalkan diri. Mula-mula mahasiswa Fu Jen memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris. Menyadari bahwa kemampuan berbahasa Inggris-nya tidak jauh berbeda, para mahasiswa Stikvinc menjadi lebih percaya diri dalam memperkenalkan diri.
Meski saat itu hari minggu, ada 15 orang mahasiswa Stikvinc yang datang. Hari tersebut peserta belajar membuat kaligrafi dan gelang dari tali yang disimpul. Topik ringan yang banyak diminati. Hari itu ada beberapa tamu yang khusus datang untuk belajar kaligrafi dan menyimpul tali. Tampak ada Sr. Maria yang sangat tertarik belajar Kaligrafi Cina, juga Sr. Antonia dan Sr. Ignata yang tertarik juga untuk belajar simpul menyimpul tali.
Ada sedikit keterbatasan dalam komunikasi dari kedua belah pihak, namun pembelajaran berjalan dengan baik. Dalam sehari itu, tidak ada lagi rasa canggung di antara para mahasiswa. Keterbukaan hati para mahasiswa membawa keakraban yang tercermin dalam canda gurau serta tawa yang terus mengalir dalam setiap kegiatan.

Selain belajar kaligrafi dan menyimpulkan tali menjadi gelang, peserta juga diajarkan beberapa ketrampilan yang berasal dari budaya Tiongkok. Salah satunya adalah Cutting Paper alias menggunting. Berbeda dengan pelajaran yang diberikan pada kelas taman kanak-kanak, kertas yang digunting membentuk hiasan. Hiasan bisa berupa tulisan karakter Tiongkok, seperti kaligrafi, dan membentuk lingkaran. Masih berhubungan dengan kertas, peserta juga diajarkan Origami alias melipat. Kertas yang dilipat bisa menjadi burung dan yang lain. Sehari itu para peserta menghasilkan banyak hasil karya tangan mereka

Sesudah mampu mengembangkan ketrampilan tangannya dalam menggunting dan melipat, peserta kemudian juga diajak mempelajari olah raga khas Tiongkok, yakni Taichi. Bukan hanya belajar gerakan, tetapi juga diajarkan falsafah dan manfaatnya. Dalam satu jam para peserta sudah bisa mengolah raganya menjadi lebih sehat, terlihat dari keringatnya yang mengucur dari sekujur tubuh mereka
Selain memperkenalkan ketrampilan tangan dan olah raga, para mahasiswa juga memperkenalkan bahasa Mandarin. Belajar bahasa asing yang berasal dari budaya yang sama seklai berbeda, membuat sedikit kesulitan. Banyak konsonan yang berbeda yang bagi mahasiswa Indonesia sama, ternyata harus diucapkan secara berbeda. Bila ditanya kesan yang paling pertama muncul adalah capek mulutnya , karena harus membentuk bibir dan mulutnya agar mengeluarkan bunyi dan ucapan yang pas .
Dibalik kesulitan tersebut, entah karena keuletan yang belajar atau cara mengajarnya yang menarik, entah karena usia yang sebaya, pembelajaran tersebut dengan cepat dapat diserap. Hasilnya mahasiswa Indonesia bisa bermain game dan simulasi percakapan di rumah sakit, antara pasien, keluarganya dan petugas kesehatan dalam bahasa mandarin!

Selain bahasa, budaya juga bisa dienjawantahkan dalam bentuk kuliner. Sebagaimana mahasiswa merasakan makanan Indonesia sebagai bagian dari budaya Indonesia, mahasiswa Fu Jen juga membawa beberapa makanan Taiwan yang ingin diperkenalkan. Mulai dari minuman milk tea dengan bubble -nya, hingga kue-kue diperkenalkan. Sebagian makanan tersebut mirip dengan yang ada di Indonesia. Mungkin dahulu nenek moyang dari Tiongkok membawanya dan mengembangkan dengan rasa Inodensia. Sayang masakan Taiwan tidak bisa diperkenalkan

Bila mahasiswa Fu Jen memperkenalkan budayanya lewat ketrampilan tangan, olah raga dan kulinernya, maka mahasiswa Stikvinc memperkenalkan budaya Indonesia yang sangat Indah, yakni toleransi. Kedatangan mereka yang bersamaan dengan pesta para Suster Abdi ROh Kudus, membuat mereka mengalami budaya Katolik di Indonesia. Tiga hari berselang, juga kebetulan ada perayaan Idul Fitri, maka mahasiswa dan staf Stikvinc yang merayakan Idul Fitri mengundang mereka untuk datang merayakan bersama mereka. Ada beberapa kebiasaan yang mereka kenal, kebiasaan mencium tangan dari yang yunior kepada yang senior belum pernah mereka lihat sebelumnya, atau dibawakan makanan sepulang dari berkunjung cukup membuat mereka bingung.
Selain mengalami perayaan Idul Fitri mereka juga sempat berkunjung ke masjid Cheng-Ho Surabaya. Diluar ekspektasi mereka, masjid Cheng-Ho yang ditemui berwarna merah da berarsitektur Tiongkok. Jauh dari bayangan mereka mesjid yang putih dan tipikal timur tengah arsitekturnya. Yang ini hanya ada di Indonesia Guys!

Tag

Share



0 Komentar

    Form Komentar

    Tag Cloud


    Agenda

    ' Pengumuman by STIKES Katolik St. Vincentius a Paulo on ...'

    ' ayo teman teman stikvinc ikutan yuk seminar dan workshop update ...'

    ' STIKES Katolik St. Vincentius a Paulo Surabaya mengadakan Acara Donor Darah ...'

    Artikel Terpopuler

    Dalam rangka peringatan ulang tahun perawat sedunia 12 Mei

    Berita Terpopuler

    Pada tanggal 3-5 Agustus 2015 mahasiswa dari Prodi D3 keperawatan

    Video Terpopuler

    Video Promosi STIKES Katolik St. Vincentius a

    Facebook Fanpage

    Banner